NAMPAKNYA
Nampaknya.
Untukmu yang masih melekat dalam hati,
Nampaknya, aku lupa sudah berapa kali hatiku terjatuh. Suatu bilangan pun nampaknya tidak akan lagi bisa untuk menjadi jawaban pertanyaan berapa kali aku menaruh harapan itu padamu. Kamu adalah titik pusat dari segala rasa yang terpendam di dada. Kamu satu-satunya titik koordinat yang terpeta di hati; tangga-tangga yang tak pernah lelah kupijak.
Nampaknya, aku mengerti jika kita memang tidak pernah sejalan untuk mengetahui apa sejatinya arti cinta. Aku mencintaimu dengan sangat, namun kau pergi karena takut terluka. Kau adalah jawaban yang aku inginkan. Namun, kau memaksa semesta agar jawaban yang ingin aku dapatkan berbeda. Tak pernahkah coba kau terka? Aku mencintaimu tanpa karena, semua cacatmu bukanlah menjadi tolak ukur untuk merasakan bahagia denganmu dan itulah alasan mengapa aku bertahan hingga sekarang ini.
Nampaknya, semua prediksiku tentang kau salah. Aku kira aku cukup untuk menjadi penenangmu disaat kau merasa gelisah, aku kira aku mampu untuk menjadi tujuanmu dikala hati sendumu itu muncul, aku kira aku cukup mengenalmu untuk menjadi keinginanmu. Kadang, aku berharap jika kita mempunyai rasa yang cukup untuk saling menyambut lalu kemudian saling bersatu. Namun, benar seperti perkataan mereka jika ekspetasi kadang tidak sesuai realita dan semesta memang benar-benar menciptakan harapan semu bernama asa.
Nampaknya, semesta ingin mengajarkanku sejatinya arti merelakan. Apa yang aku tanam, siram, kemudian ku semai kadang tak menghasilkan sesuatu yang matang. Mungkin, kamu hanya seseorang yang semesta titipkan untukku agar aku mau belajar bahwa cinta bukanlah hal yang semu. Atau mungkin juga, sebenarnya aku yang terlambat untuk memahami. Bahwa semua ucapan serta tingkah lakumu yang pernah membuat hati ini hidup, hanya sesuatu yang biasa-biasa saja bagimu.
Nampaknya, hati ini selalu mencarimu. Sungguh, tak pernah hati ini mampu untuk menjadikanmu sebagai tujuan pulang yang salah. Sebab, jika memang salah mengapa hatiku selalu menganggap jika mencintaimu adalah sesuatu yang terasa begitu benar? Sungguh, keputusan paling sulit adalah mencoba untuk jatuh cinta lagi selain kepadamu. Mengertilah, karena mencintai seseorang yang salah tidak mengartikan jika semuanya itu percuma, karena keputusan untuk bertahan itulah yang membuktikannya.
Nampaknya, aku harus mengakui jika kamu bukanlah ujung yang dapat aku miliki, namun lebih dari itu biarkanlah aku terus mencintamu karena setidaknya dengan mencintaimu aku merasa begitu hidup. Meski kini hanya tinggal serpihan debu yang sudah hangus ditelan kenyataan.
dan Nampaknya; harus kuselesaikan tulisan tentangmu kali ini, aku tidak ingin jika ingatan tentangmu kembali menampakkan tajam duri rindunya itu. Jika harus jujur, hingga sekarang ini belum kutemukan peluk yang senyaman pelukmu. Mungkin aku seperti seseorang yang sedang pergi berkelana, meskipun hujan badai aku tetap mencoba. Sebab ribuan pertanyaan yang aku lontarkan padamu akan terasa percuma, jika tetap kita tidak mungkin untuk bersama. Semoga bahagia sesegera mungkin menemukan aku.
*ditulus oleh sepuluh jemari Budi Kusuma, untuk seorang nona nan jauh disana.
Untukmu yang masih melekat dalam hati,
Nampaknya, aku lupa sudah berapa kali hatiku terjatuh. Suatu bilangan pun nampaknya tidak akan lagi bisa untuk menjadi jawaban pertanyaan berapa kali aku menaruh harapan itu padamu. Kamu adalah titik pusat dari segala rasa yang terpendam di dada. Kamu satu-satunya titik koordinat yang terpeta di hati; tangga-tangga yang tak pernah lelah kupijak.
Nampaknya, aku mengerti jika kita memang tidak pernah sejalan untuk mengetahui apa sejatinya arti cinta. Aku mencintaimu dengan sangat, namun kau pergi karena takut terluka. Kau adalah jawaban yang aku inginkan. Namun, kau memaksa semesta agar jawaban yang ingin aku dapatkan berbeda. Tak pernahkah coba kau terka? Aku mencintaimu tanpa karena, semua cacatmu bukanlah menjadi tolak ukur untuk merasakan bahagia denganmu dan itulah alasan mengapa aku bertahan hingga sekarang ini.
Nampaknya, semua prediksiku tentang kau salah. Aku kira aku cukup untuk menjadi penenangmu disaat kau merasa gelisah, aku kira aku mampu untuk menjadi tujuanmu dikala hati sendumu itu muncul, aku kira aku cukup mengenalmu untuk menjadi keinginanmu. Kadang, aku berharap jika kita mempunyai rasa yang cukup untuk saling menyambut lalu kemudian saling bersatu. Namun, benar seperti perkataan mereka jika ekspetasi kadang tidak sesuai realita dan semesta memang benar-benar menciptakan harapan semu bernama asa.
Nampaknya, semesta ingin mengajarkanku sejatinya arti merelakan. Apa yang aku tanam, siram, kemudian ku semai kadang tak menghasilkan sesuatu yang matang. Mungkin, kamu hanya seseorang yang semesta titipkan untukku agar aku mau belajar bahwa cinta bukanlah hal yang semu. Atau mungkin juga, sebenarnya aku yang terlambat untuk memahami. Bahwa semua ucapan serta tingkah lakumu yang pernah membuat hati ini hidup, hanya sesuatu yang biasa-biasa saja bagimu.
Nampaknya, hati ini selalu mencarimu. Sungguh, tak pernah hati ini mampu untuk menjadikanmu sebagai tujuan pulang yang salah. Sebab, jika memang salah mengapa hatiku selalu menganggap jika mencintaimu adalah sesuatu yang terasa begitu benar? Sungguh, keputusan paling sulit adalah mencoba untuk jatuh cinta lagi selain kepadamu. Mengertilah, karena mencintai seseorang yang salah tidak mengartikan jika semuanya itu percuma, karena keputusan untuk bertahan itulah yang membuktikannya.
Nampaknya, aku harus mengakui jika kamu bukanlah ujung yang dapat aku miliki, namun lebih dari itu biarkanlah aku terus mencintamu karena setidaknya dengan mencintaimu aku merasa begitu hidup. Meski kini hanya tinggal serpihan debu yang sudah hangus ditelan kenyataan.
dan Nampaknya; harus kuselesaikan tulisan tentangmu kali ini, aku tidak ingin jika ingatan tentangmu kembali menampakkan tajam duri rindunya itu. Jika harus jujur, hingga sekarang ini belum kutemukan peluk yang senyaman pelukmu. Mungkin aku seperti seseorang yang sedang pergi berkelana, meskipun hujan badai aku tetap mencoba. Sebab ribuan pertanyaan yang aku lontarkan padamu akan terasa percuma, jika tetap kita tidak mungkin untuk bersama. Semoga bahagia sesegera mungkin menemukan aku.
*ditulus oleh sepuluh jemari Budi Kusuma, untuk seorang nona nan jauh disana.
Komentar
Posting Komentar